Selamat Hari Pendidikan 2014!

 

Kiky and Teaching

Kiky and Teaching

Pukul empat pagi tadi saya terbangun dan menyadari ini tanggal 2 Mei. Begitu bangun, saya langsung mereka-reka harapan saya dengan mengetikkannya di tablet yang memang kebetulan ada di samping tempat tidur saya. Maklum, saya langsung sadar ini Hari Pendidikan karena sebelum tidur saya berdiskusi dengan Oktaviana Kale mengenai kondisi pendidikan kita yang jauh ketinggalan kereta (dibandingkan dengan negara-negara lain). Tapi saya tidak ingin kehilangan harapan. Saya masih menunggu orang-orang di luar sana (termasuk menantang diri sendiri) untuk bisa membawa perubahan untuk pendidikan di Indonesia. Sekecil apapun hal positif yang kita lakukan tetap akan membawa dampak yang baik untuk negeri ini.

Dan inilah harapan saya yang sederhana itu.

1. Supaya para pejabat Dinas Pendidikan tidak hanya gemar beretorika, berbicara tanpa guna. Kita butuh kinerja NYATA yang efektif dan efisien.

2. Supaya para pemimpin di sekolah bisa membawa sekolah ke arah yang lebih baik. Kita butuh pemimpin yang punya INTEGRITAS dan KETEGASAN terhadap siapa saja, yakni guru, staf, orang tua siswa, yayasan (jika ini swasta), maupun orang-orang pemerintahan.

3. Supaya para guru mengerti betul tugas mulianya dan sanggup mengajar dari HATI. Kita butuh para guru, baik tua maupun muda yang RENDAH HATI sehingga mau selalu belajar. Menjadi guru dengan mengajar itu bukan berarti menggurui.

4. Supaya para orang tua bisa diajak KERJA SAMA. Kita butuh orang tua yang memiliki kesadaran bahwa anak adalah TANGGUNG JAWAB mereka juga, bukan 100 persen tanggung jawab sekolah dengan alasan sudah membayar uang SPP.

5. Supaya para siswa memiliki PEMAHAMAN akan alasan mereka harus belajar. Kita butuh generasi muda yang memiliki tujuan dan bersedia mengerahkan energi untuk masa depan masyarakat yang lebih baik.

 

Maju terus pendidikan Indonesia!

 

Clarasia Kiky

*sedang ingin berkata banyak, tapi tidak bisa menulis panjang. Hari ini harus berjuang menyelesaikan tumpukan koreksian paper siswa*

Advertisements

Begitu banyak bola yang harus kita tangkap. Mereka dilempar ke arah kita begitu cepat, sedangkan tangan kita cuma dua – tidak pernah bisa bertambah. Lalu harus bagaimana? Jawabannya demikian. Diam dahulu, bikin ancang-ancang. Yang sudah terlanjur jatuh, biarkan! Yang hampir kena badan, tangkap cepat sambil memusatkan mata pada bola-bola yang akan datang. Segera pasang strategi agar mereka tidak berjatuhan juga. SATU PERSATU.

 

Clarasia Kiky, ketika hidupnya makin tak keruan.

Ibarat Bola-bola yang Berdatangan

Menyeberangi Dunia

Bagaimana aku merindukanmu, itu tak perlu kau tahu.

Bagaimana aku memujamu, itu tak perlu kau ragu.

Sepanjang ada bintang di langit yang maha luas.

Sepanjang ada bayang kejora tertangkap danau maha tenang.

Selama itulah aku akan memutar “Across the Universe”.

Bisakah kau mendengarkannya juga? Malam ini saja?

Mari berdekapan dalam jarak, waktu, dan kenangan!

 

– Clarasia Kiky, terinspirasi oleh “Across the Universe” The Beatles yang dipopulerkan kembali oleh Fiona Apple.

 

 

Menyoal Kebencian

Saat saya masih di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya pernah mendapat ancaman dari teman sekelas. Tubuh saya yang kurus kecil dan kulit saya yang gelap kerap menjadi bahan tertawaannya. Hobinya tiap kali saya melintas adalah melirik bengis pada saya. Ibu saya memang sedang menjanda saat itu, dan itu pulalah yang ia jadikan sebagai bahan celaan tambahan. Yang terakhir ini paling menyakitkan bagi saya. Tapi saya tidak peduli, karena saya selalu menjadi orang pertama di sekolah saya. Dalam akademik. Nilai saya cemerlang. Selalu. (Ini bukan sombong, ini hanya ingin menjelaskan keadaan yang sebenarnya).

Lain halnya ketika saya sudah di universitas. Dan ini terjadi di tahun pertama perkuliahan saya. Ada satu dosen yang dengan sengaja menunjukkan wajah menyeramkannya (di antara ratusan wajah yang bersukacita) saat saya beserta kelompok karya ilmiah saya maju ke depan, mendapat pengumuman kemenangan penelitian kami di tingkat Kopertis dan tawaran akan penelitian berikutnya. Beberapa waktu kemudian ia juga memanggil saya, memperingatkan dengan keras bahwa projek lain yang sedang saya kerjakan saat itu (berhubungan dengan pembuatan sebuah film) adalah kegiatan yang tidak pas dalam kaitan saya sebagai anak beasiswa. Di waktu-waktu berikutnya, perilaku dia yang tidak mengenakkan terhadap saya (dan kelompok saya) ini tidak pernah berubah. Tiap berpapasan dengannya, saya merasa resah. Apa yang salah menjadi mahasiswi beasiswa 100 persen yang tidak hanya duduk manis mendengarkan dosen ceramah? Bukankah mencoba menulis karya ilmiah itu seharusnya didukung? Bukankah mengasah kreativitas melalui film pendek seharusnya juga diapresiasi? Karena kemampuan akademik bukanlah segalanya. Karena sejak awal, saya tahu bahwa hidup kita harus SEIMBANG.

Saya juga pernah disindir orang di media sosial hanya karena saya memanggil pacar dia (yang kebetulan sudah bersahabat lama dengan saya – bahkan lebih lama daripada umur pacaran mereka) dengan panggilan tertentu. Menurut dia, itu panggilan khusus. Padahal kenyatannya saya memanggil banyak orang dekat demikian. Hahaha! Acapkali saya memanggil kawan-kawan dengan panggilan tertentu dengan tujuan jelas. Supaya hubungan santai, dekat, dan menyenangkan. Apa yang salah dengan mewarnai dunia dengan humor? Tidak ada intensi khusus yang tidak jelas.

Ketika saya dibenci orang, saya selalu bercermin. Benarkah saya seperti yang mereka pikirkan? Atau sebenarnya saya hanya membuat asumsi negatif tentang apa yang mereka pikirkan atas diri saya? Kemudian saya mulai berpikir lebih jauh. Saat remaja, saya di-bully atas penampilan fisik saya dan keadaan keluarga saya. Saat di universitas saya di-bully lagi lantaran aktivitas saya di luar akademik. Dan yang terakhir, saya dicibir karena cara saya bergaul. Sampai akhirnya saya menemukan kutipan berikut ini.

“Those people, who hate you, envy your freedom.” ― Santosh Kalwar. Kira-kira terjemahannya adalah seperti ini. Orang-orang itu, yang membencimu, iri dengan kebebasanmu.

Siapa setuju dengan pernyataan Kalwar ini?

Tentu dalam ketiga kasus yang sudah saya alami tadi, saya harap sebenernya orang-orang tadi tidak membenci saya. Mereka barangkali hanya sedang merasa iri atau membenci kebebasan saya saja. Yang pertama, merasa iri saya bebas menjadi anak yang cemerlang di sekolah meski saya berpenampilan buruk dan punya sejarah keluarga yang tidak menyenangkan. Yang kedua, orang yang katanya “dewasa” itu hanya iri dengan kebebasan saya untuk beraktivitas positif ini – itu, tapi tetap bisa mempertahankan nilai akademis. Iri dengan kebebasan saya menerapkan nilai “Jangan pernah hanya jago di kandang sendiri saja”. Dan yang terakhir, mungkin ia sekedar iri dengan kebebasan saya dalam bergaul dengan santai meski saya sudah berkomitmen dengan seseorang yang menjadi kekasih saya. Mungkin saja ia tidak memiliki kebebasan seperti yang saya miliki. Atau sekedar tidak memiliki kebebasan untuk mempercayai pasangannya sendiri. Barangkali.

Itulah renungan singkat saya mengenai kebencian yang menyerang kita. Mudah-mudahan memang begitu. Kadang orang-orang yang membenci kita itu sebenarnya hanya iri dengan kebebasan kita saja. Karena tidak ada hidup yang lebih membahagiakan daripada merasa bebas, bukan? Dan manusia, kenyataannya memang mencari kebahagiaan itu sendiri.

 

Stay positive and have a wonderful Wednesday!

Salam #rabumenggebu ,

Clarasia Kiky

Sebuah “Bla” untuk “Blablablabla”

They say so.

They say so.

Mereka bilang begitu.

Banyak orang mengutip perkataan Lao Tzu, filsuf Cina yang hidup antara tahun 604 SM sampai 531 SM itu. Maksudnya? Untuk meyakinkan diri dan orang lain bahwa sebuah perjalanan yang begitu panjang itu mungkin saja dilalui asal dimulai dengan sebuah langkah. SEBUAH LANGKAH.

Memang, tidak ada yang salah dengan logikanya.

Sebuah gunung yang tingginya lebih dari 3000 mdpl bisa saja kamu capai, asal kamu menjejakkan satu langkah lebih dulu.  Ya, to? Oke, mungkin ini kedengaran “tidak mungkin” untuk orang yang tidak suka repot membawa satu carrier tinggi, padat, dan berat sambil berjalan mendaki jalanan setapak yang kanan kirinya jurang yang curam. Baiklah, tidak mengapa.

Tapi paling tidak, logika berikut ini bisa diterima, kan? Kalau kamu mau menyelesaikan setrikaanmu yang menggunung itu, ya dengan mulai mengambil satu helai baju untuk disetrika. Kalau kamu mau lihat mejamu yang super berantakan itu jadi rapi, ya mulailah dengan mengambil satu barang untuk dipindahkan ke tempat semestinya. Kalau kamu mau menulis esai 1000 kata, ya mulailah dengan menulis satu kata. Kalau kamu mau “blablablabla” ya seharusnya mulailah dulu dengan “bla”!

Masuk akal semua, kan?

Tapi saya sempat heran dengan diri saya sendiri. Saya mengeluh atas segunung pakaian saya yang belum rapi, tapi saya tidak pernah bergerak semilipun untuk mengambil satu helai syal tipis supaya disetrika. Saya mau meja saya rapi seketika, tapi dari tadi saya tidak berhenti menatap meja yang penuh barang dan debu itu, tanpa pergerakan sedikit pun. Saya mau esai 1000 kata saya dapat nilai A dari dosen, tapi membuka word document saja saya enggan. Malahan saya asyik ketik sana ketik sini di social media. Bagaimana saya bisa dapat “blablablabla” tanpa sebuah “bla”?!?

Sore ini saya diingatkan bahwa manusia itu unik. Kadang sebenarnya orang itu tidak malas atau ragu  membuat sebuah langkah yang bisa membawanya pada sebuah perjalanan dan akhirnya pada sebuah pencapaian yang bermakna. Kadang orang hanya hilang akal – mengapa ia melakukan ini dan itu. Saya percaya manusia membutuhkan sebuah energi yang membuat ia tahu mengapa ia menciptakan sebuah “bla” demi membangun “blablablabla” itu.

 

Selamat pulang bekerja.

Selamat mencari makan malam.

Selamat memandangi bundarnya matahari yang hendak pergi.

 

Salam,

Clarasia Kiky